ANALISIS TINDAK TUTUR HUMOR NASRUDDIN HOJA

|

Jumat, 16 Desember 2011

Strategi Tutur Wacana Humor Nasruddin Hoja
Nasruddin banyak memanfaatkan kiat-kiat kebahasaan dalam menciptakan kelucuan pada humornya. Kiat-kiat kebahasaan itu berupa penyimpangan-penyimpangan terhadap berbagai teori tindak tutur dan juga pemanfaatan ataupun penyimpangan terhadap maksim-maksim percakapan.
Berikut ini dipaparkan kiat-kiat yang digunakan Nasruddin dalam memaksimalkan efek kelucuan dalam humornya.

Peristiwa Tindak Tutur dalam Humor Nasruddin Hoja
a. Tindak Lokusi
Seperti telah penulis diungkapkan sebelumnya, bahwa tindak lokusi adalah tindak tutur yang ditujukan semata-mata untuk menginformasikan sesuatu. Tidak ada tujuan untuk melakukan sesuatu apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak lokusi dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Guna Sebuah Lampu
“Aku bisa melihat dalam gelap,” bual Nasruddin suatu hari di warung kopi.
“Kalau begitu, kenapa kami kadang melihatmu membawa lampu ketika berjalan di malam hari?”
“O, itu sih hanya untuk mencegah agar orang tidak menabrakku.”
(CJNH:24)

Humor di atas yang mempunyai daya lokusi berupa penginformasian bahwa Nasruddin bisa melihat dalam gelap (hanya bualan Nasruddin untuk mengisi obrolan di warung kopi) sehingga tidak mempunyai ilokusi atau perlokusi apa pun seperti mempengaruhi lawan tutur. Lawan tutur hanya akan merasa kesal tapi yang mendengar atau membaca cerita tersebut pasti akan tertawa atau tersenyum simpul. Kecerdikan Nasruddin saat memperdayai lawan tuturnyalah yang membuat lucu cerita di atas. Tidak ada maksud apa-apa dalam cerita Nasruddin di atas kecuali melucu, membual atau membuat suasana ramai saja.
Nasruddin membuat pernyataan kalau dia bisa melihat dalam gelap. Artinya dia bisa berjalan dengan baik pada malam hari tanpa ada penerangan. Pernyataan Nasruddin tersebut disanggah oleh temannya karena temannya pernah melihat Nasruddin berjalan pada malam hari dengan membawa lampu
. Temannya itu pasti berpresuposisi dengan sanggahannya akan melemahkan pernyataan Nasruddin. Tidak ada orang yang bisa melihat dalam gelap tanpa penerangan kecuali orang yang mempunyai keahlian tertentu. Teman Nasruddin itu tahu kalau Nasruddin tidak mempunyai keahlian itu. Dia memberikan koreksi terhadap pernyataan Nasruddin kemudian menilai salah. Nasruddin tidak mau kalah dan malu, dia memberi alasan konyol dengan tetap membanggakan dirinya. Dia membawa lampu saat berjalan di malam hari hanya untuk mencegah agar tidak ditabrak orang. Sungguh pernyataan yang konyol dan menggelikan. Sebuah presuposisi Nasruddin tersebut tidak salah. Memang benar, kalau berjalan dalam kegelapan tanpa penerangan kemungkinan akan ditabrak orang. Yang semestinya Nasruddin pun butuh penerangan juga saat berjalan di malam hari. Presuposisi berupa pernyataan konyol itulah yang membuat lucu cerita di atas.

b. Tindak Ilokusi
Tindak ilokusi adalah sebuah tindak tutur yang selain berfungsi untuk menginformasikan sesuatu, juga berfungsi untuk melakukan sesuatu.



Pertanyaan Tak Terjawab
“Tak ada satu pun pertanyaan yang tidak memiliki jawaban,” kata seorang rahib ketika memasuki warung kopi tempat Nasruddin dan kawan-kawannya sedang duduk-duduk.
“Saya pernah ditantang seorang sarjana dengan sebuah pertanyaan yang tak terjawab,” ujar Nasruddin.
“Sayang, aku tidak ada di sana. Coba katakan, aku pasti bisa menjawab pertanyaannya.”
“Bagus,” kata Nasruddin, “kenapa engkau mencuri di rumahku pada malam hari dan masuk melalui jendela?”
(CJNH:40)
Dalam humor di atas Nasruddin mencoba membuat seorang rahib yang sombong itu bingung dengan sebuah pertanyaan yang sekaligus menuduh rahib tersebut, padahal Nasruddin dan kawan-kawannya sendiri tahu kalau rahib itu tidak melakukan seperti yang dituduhkan Nasruddin. Nasruddin hanya ingin membalas kesombongan dengan sebuah ejekan melalui tuduhan itu. Tindak ekspresif yang merupakan bagian dari tindak ilokusi pada cerita di atas adalah sebuah ungkapan perasaan dongkol atau jengkel. Antara penutur dan lawan tutur sama-sama mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis tapi dengan cara yang berbeda. Dilihat ujaran Nasruddin pada cerita di atas “Saya pernah ditantang seorang sarjana dengan sebuah pertanyaan yang tak terjawab.” Itu adalah ungkapan Nasruddin yang menyangkal perkataan rahib bahwa “Tak ada satu pun pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.” Nasruddin tidak terima dengan pernyataan rahib sehingga Nasruddin menyangkal. Itulah yang disebut tindak ilokusi ekspresif. Pada percakapan selanjutnya juga sama, perkataan rahib “Sayang, aku tidak ada di sana. Coba katakan, aku pasti bisa menjawab pertanyaannya.” tantangan rahib kepada Nasruddin. Nasruddin yang sejak tadi tidak suka dengan rahib itu malah ditantang dengan sikap sombong rahib, spontan Nasruddin menanggapi tantangan itu dengan ejekan saja, “Bagus,” kata Nasruddin, “kenapa engkau mencuri di rumahku pada malam hari dan masuk melalui jendela?” Kenapa Nasruddin malah mengejek rahib tersebut dengan sebuah tuduhan bukannya sebuah pertanyan yang tak terjawab yang dimaksud Nasruddin tadi? Nasruddin menilai tak seharusnya seorang rahib itu berbuat demikian karena dia adalah panutan masyarakat. Dia berharap dengan ejekan itu si rahib introspeksi diri, tak sepantasnya dia menyombongkan ilmunya. Tindak ilokusi ekspresif Nasruddin yang mengejek rahib itulah letak kelucuan cerita humor di atas.
Kelucuan tersebut tercipta karena presuposisinya seorang rahib yang tidak sesuai seperti yang diinginkan. Rahib itu berpraanggapan kalau Nasruddin akan memberikan pertanyaan yang tak terjawab seperti yang Nasruddin ungkapkan, akan tetapi Nasruddin melanggar maksim kualitas dengan tidak memberikan respons atau jawaban yang sebenarnya yaitu pertanyaan yang tak terjawab. Nasruddin malah mengejek rahib tersebut dengan sebuah tuduhan sehingga rahib menjadi terpojok dan menjadi bahan tertawaan. Karena presuposisi yang salah dan pelanggaran maksim kualitas itulah tercipta sebuah kelucuan “Pertanyaan Tak Terjawab.”

Sekalian Saja
Nasruddin pernah bekerja pada seseorang yang sangat kaya, tetapi dia mendapat kesulitan dalam pekerjaannya.
Pada suatu hari, orang kaya itu memanggilnya. Dia berkata, “Nasruddin, kemarilah. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau tidak pernah bisa mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau, misalnya, kusuruh beli tiga butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur, kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya, sehingga untuk beli tiga telur kau pergi tiga kali ke warung.”
Nasruddin menjawab, “Maaf Tuan, saya memang salah. Saya tidak akan lagi melakukan hal serupa itu. Saya akan mengerjakannya sekaligus supaya cepat dan beres.”
Beberapa waktu kemudian majikan Nasruddin jatuh sakit dan dia menyuruh Nasruddin pergi memanggil dokter. Tak lama kemudian Nasruddin kembali. Ternyata dia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga beberapa orang lain. Dia masuk ke kamar orang kaya yang sedang berbaring di ranjang. Katanya, “Dokter sudah datang Tuan, dan yang lainnya juga sudah datang.”
“Yang lain-lain?” Tanya orang kaya itu. “Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lainnya itu siapa?”
“Begini Tuan!” jawab Nasruddin. “Dokter biasanya menyuruh kita minum obat. Jadi, saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam. Jadi, saya juga membawa orang yang berjualan obat-obatan. Saya juga membawa penjual arang, karena biasanya obat-obatan itu direbus dulu. Jadi, kita memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah mati. Jadi, saya bawa sekalian tukang gali kuburan.”
(CJNH:34)
Cerita di atas juga termasuk tindak ilokusi asertif. Nasruddin terikat atas kebenaran apa yang telah dituturkannya sehingga dia harus bertanggung jawab menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu bisa terjadi karenanya. Ketika Nasruddin disuruh memanggilkan dokter oleh tuannya ternyata dia tidak hanya memanggil dokter tapi juga yang lain-lainnya. Mengingat waktu kemarin Nasruddin ditegur oleh tuannya karena dia lamban dalam bekerja. Nasruddin tidak pernah bisa menyelesaikan sekaligus satu pekerjaannya. Oleh karena itu, ketika dia disuruh memanggil dokter dia tidak hanya memanggil dokter tapi juga yang lain-lainnya supaya pekerjaannya itu selesai sekaligus tanpa bolak-balik lagi. Analogi Nasruddin bahwa pekerjaannya tersebut tidak akan ditegur lagi oleh tuannya seperti pekerjaannya yang kemarin karena kali ini Nasruddin sudah menyelesaikannya sekaligus. Tuannya itu menjadi bertanya-tanya; “Yang lain-lain?Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lainnya itu siapa?” Dengan pertanyaan seperti itu maka Nasruddin harus menjelaskan apa yang telah dituturkannya berkaitan dengan yang lain-lainnya tadi selain dokter. Tindakan Nasruddin inilah yang dinamakan tindakan ilokusi asertif. Teguran tuannya membuat Nasruddin berpresuposisi bahwa memanggil seorang dokter harus dengan tukang obat, penjual obat, penjual arang dan tukang gali kuburan agar pekerjaannya selesai sekaligus. Tetapi presuposisi Nasruddin itu berlebihan dan ternyata mengecewakan sekaligus menyinggung tuannya. Siapa pun tidak akan terima kalau dia dianggap akan mati segera, apalagi kalau sakitnya tidak begitu parah. Dia akan terus berusaha untuk bertahan hidup. Namun, dengan presuposisi Nasruddin yang mengecewakan sekaligus menyinggung tuannya itu dapat dipastikan yang membaca cerita ini akan tertawa karena keluguan Nasruddin.
Nasruddin dan Orang-orang Buta
Sekelompok orang buta sedang duduk santai di sebuah warung kopi. Nasruddin kebetulan lewat dan mampir. Dia mengeluarkan kantong dirham dan membantingnya supaya mereka mendengar suara gemerincing.
“Ambillah uang itu, dan bagi-bagikan di antara kalian,” kata Nasruddin berbohong, karena dia memang tidak memberikan apa-apa pada mereka.
Dari tempat yang agak jauh, Nasruddin menyaksikan orang-orang buta itu bangkit dan berdiri. Mereka berkata pada satu dan lainnya, “Berikan hakku, mana bagianku….” Mula-mula mereka cekcok ingin mendapatkan bagian, lalu saling memukul dengan tongkat masing-masing. Mereka duduk dan berdiri, mondar-mandir ke sana kemari. Dari jauh Nasruddin terus menyaksikan adegan lucu itu, dia hampir tidak kuat menahan tawa.
(CJNH:86)
Pada wacana di atas, tindak ilokusinya terletak pada ucapan Nasruddin, “Ambillah uang itu, dan bagi-bagikan di antara kalian,”. Ucapan Nasruddin itu bukan hanya sekedar untuk memberikan informasi kalau dia bermaksud memberikan dirham kepada sekelompok orang buta tersebut tapi juga menyuruh mereka untuk mengambil dan membagi-bagikan dirham di antara mereka. Akhirnya mereka saling berebut ingin mendapatkan dirham.
Tindak ilokusi Nasruddin tersebut termasuk tindak ilokusi komisif, yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong penutur melakukan sesuatu, menyenangkan lawan tutur dan kurang bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan penutur tapi pada kepentingan lawan tuturnya. Nasruddin melanggar tindak komisif ini. Yang pada awalnya menyenangkan lawan tuturnya tapi pada akhirnya menyenangkan Nasruddin karena dia berbohong saat melakukan tindak komisif tersebut. Sekelompok orang buta tersebut berpresuposisi bahwa Nasruddin benar-benar telah menjatuhkan uang untuk mereka sehingga mereka berebut untuk mendapatkan uang tersebut. Nasruddin telah berhasil mengelabui sekelompok orang buta di warung kopi hingga dia tidak kuat lagi menahan tawa. Hasil tindak ilokusi komisif Nasruddin dan presuposisi salah sekelompok orang buta yang menyenangkan Nasruddin itulah letak dari kelucuan cerita di atas. Akibat kebohongan Nasruddin itu orang-orang buta menjadi kalang kabut mencari dirham tetapi Nasruddin sendiri dan pembaca menjadi tertawa.




c. Tindak Perlokusi
Secara sengaja ataupun tidak sengaja, tindak perlokusi dikreasikan oleh penutur untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Humor Nasruddin juga banyak mengandung tindak perlokusi yang bertujuan agar lawan tuturnya terpengaruh dengan pemikirannya sehingga lawan tuturnya itu mau bergabung dengan Nasruddin untuk mewujudkan gagasannya.
Nasruddin Memanah
Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasruddin. Karena tahu bahwa Nasruddin cerdas dan cerdik, dia tidak mau mengambil risiko dengan beradu pikiran. Maka dia mengundang Nasruddin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.
“Ayo Nasruddin,” kata Timur Lenk, “di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Kau harus bisa mengenai sasaran dengan sekali tembak. Bila berhasil hadiah besar menantimu. Tetapi kalau gagal, engkau harus merangkak pulang ke rumahmu.”
Nasruddin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, dia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasruddin berteriak, “Demikianlah gaya tuan wazir memanah.”
Segera dia mencabut sebuah anak panah lagi. Dia mulai membidik dan kemudian memanah lagi. Anak panahnya masih jauh juga melesat dari sasaran. Nasruddin berteriak lagi, “Demikianlah gaya tuan walikota memanah.”
Nasruddin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Dia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasruddin pun berteriak lagi, “Dan yang ini adalah gaya Nasruddin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja.”
Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah kepada Nasruddin.
(CJNH:108)

Pada wacana di atas daya perlokusinya sangat kelihatan pada ucapan Nasruddin kepada Timur Lenk. Mula-mula Nasruddin membuat hati Timur Lenk senang dengan mengejek tuan wazir dan tuan walikota meskipun itu hanya akal-akalan Nasruddin karena dia tidak bisa memanah tepat pada sasaran. Nasrudin beruntung pada bidikan yang ketiga menyentuh sasaran. Segera saja Nasruddin berteriak gembira kemudian berkata kepada Timur Lenk bahwa itu gaya bidikannya padahal itu cuma kebetulan saja. “Dan yang ini adalah gaya Nasruddin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja.” Kalimat Nasruddin itulah yang disebut perlokusi, yaitu tindak tutur yang bersifat mempengaruhi lawan tutur untuk melakukan sesuatu sesuai yang diinginkan penutur. Hasilnya Nasruddin mendapatkan apa yang dia inginkan dari Timur Lenk padahal Timur Lenk tahu itu hanya akal-akalan Nasrudin. Timur Lenk menyadari ketidakmampuan Nasruddin dalam hal memanah tapi Nasruddin memang tidak pernah kekurangan ide untuk membela dirinya dan mendapatkan keuntungan. Timur Lenk cukup senang dengan kecerdikan Nasruddin oleh karena itu, Timur Lenk mengiyakan saja ucapan Nasruddin. Kecerdikan Nasruddin dalam mengalihkan ketidakmampuannya memanah kepada tuan wazir dan tuan walikota telah membuat geli Timur Lenk dan tentunya para pembaca cerita ini.
Timur Lenk di Akhirat
Timur Lenk dan Nasruddin berdiskusi masalah kepercayan yang dianut Nasruddin. Dari Nasruddin, Timur Lenk mendapat pengetahuan tentang akhirat, surga dan neraka.
“Nasruddin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu?” tanya Timur Lenk.
Bukan Nasruddin kalau tak dapat menjawab pertanyaan sepelik ini.
“Raja penakluk seperti Paduka,”jawab Nasruddin, “insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah. Saya yakin Paduka akan ditempatkan bersama Fir’aun dari Mesir, Raja Namrudz dari Babilon, Kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jengis Khan.”
Timur Lenk benar-benar puas dan gembira mendengar jawaban itu.
(CJNH:102)
Tindak perlokusi Nasruddin juga terlihat pada wacana di atas. Bagaimana dia mempengaruhi raja dengan pemikirannya sehingga Timur Lenk puas dan gembira. Kecerdasan Nasruddin dalam memberikan gambaran kepada Timur Lenk tentang tokoh-tokoh besar dalam sejarah yang sebenarnya mereka adalah penguasa yang sangat kejam dan terkutuk dalam kepercayaan yang dianut Nasruddin. Gaya bahasa paradoks (berisi pertentangan yang nyata dari fakta-fakta yang ada)dimanfaatkan Nasruddin untuk mengelabui Timur Lenk. Namun Timur Lenk tidak mempunyai pengetahuan tentang itu sehingga dia malah merasa bangga dan puas karena di akherat nanti dia akan bersama raja-raja yang sederajat dengannya. Dari tidak berpengetahuan Timur Lenk berpresuposisi yang salah. Timur Lenk tidak mengerti kalau di akhirnya nanti dia akan disiksa di neraka akibat perbuatannya. Timur Lenk tidak sadar kalau dia telah menjadi bahan tertawaan Nasruddin dan pastinya para pembaca. Dalam hati Nasruddin sangat membenci Timur Lenk karena dia penguasa yang kejam dan semena-mena. Timur Lenk senang sekali kalau ada kerusuhan, kehancuran, dan kesengsaraan yang menimpa orang lain. Timur Lenk akan tertawa terbahak-bahak kalau dia melihat orang yang menderita. Nasruddin selalu mengikuti Timur Lenk karena dia takut akan dianiaya lalu dibunuh Timur Lenk. Nasruddin selalu menuruti Timur Lenk tapi dalam hatinya selalu melawan dan membangkang. Dan Nasruddin tidak pernah kehilangan akal dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan dari Timur Lenk dan keinginan-keinginan yang aneh, tidak masuk akal.
Terciptanya kelucuan cerita di atas adalah dari presuposisi Timur Lenk yang salah karena tindak perlokusi Nasruddin yang memberikan gambaran bagus dan menarik kepada Timur Lenk sehinga dia merasa dipuji, diagungkan dan disetarakan dengan raja-raja yang telah menghiasi sejarah. Presuposisi Timur Lenk raja-raja setaranya itu akan tetap diagungkan di akhirat seperti halnya di dunia. Dan timur Lenk sangat terkesan dengan daya pengaruh Nasruddin; “Raja penakluk seperti Paduka,”jawab Nasruddin, “insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah. Saya yakin Paduka akan ditempatkan bersama Fir’aun dari Mesir, Raja Namrudz dari Babilon, Kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jengis Khan.”

Penciptaan Kelucuan dengan Maksim-maksim Percakapan
Penciptaan efek lucu pada wacana humor bisa dilakukan dengan melanggar maksim-maksim percakapan Grice. Bila dilihat dari pandangan Grice tentang kaidah-kaidah maksim percakapan, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh Nasruddin. Namun demikian, dalam beberapa humornya, Nasruddin tetap mematuhi maksim-maksim percakapan Grice.

a. Penciptaan Kelucuan dengan Maksim
Kuantitas
Seperti diketahui bersama bahwa dalam percakapan dengan orang lain diharapkan memberikan respons atau jawaban secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan lawan tutur.
Toko Serba Ada
Suatu hari Nasruddin masuk sebuah toko yang menjual segala macam barang.
“Apa kau menjual pisau?” tanya Nasruddin kepada pemiliknya.
“Ya,”jawab pemilik toko.
“Paku?”
“Ada.”
“Kulit?”
“Juga ada.”
“Jarum?”
“Tersedia.”
“Palu?”
“Itu tersedia banyak macam ukurannya.”
“Benang yang kuat?”
“Ada,” jawab pemilik toko.
“Kalau begitu, kenapa kau tak membuat sepatu sekalian?” kata Nasruddin
(CJNH:89)

Pada cerita di atas terjadi percakapan singkat, artinya setiap pertanyaan dijawab seperlunya saja tanpa ada tambahan apapun sebagai pelengkap pembicaraan. Pertanyaan Nasruddin dijawab si pemilik toko dengan singkat tanpa embel-embel persuasif untuk menarik minat pembeli. Itulah yang disebut dengan maksim kuantitas, yaitu lawan tutur memberikan respons atau jawaban secukupnya saja. Kelucuan pada wacana di atas terletak pada akhir percakapan yaitu ketika Nasruddin berkesimpulan lalu bernasihat; “Kalau begitu, kenapa kau tak membuat sepatu sekalian?” Yang membuat lucu adalah sebuah presuposisi yang salah dari pemilik toko. Awalnya si pemilik toko pasti berpraanggapan Nasruddin akan membeli semua barang yang dia ditanyakan. Setelah Nasruddin bertanya yang terakhir, pupuslah harapan si pemilik toko. Ternyata Nasruddin hanya mau memberikan nasihat bukan untuk membeli. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi akibat dari nasihat Nasruddin itu. Pertama, si pemilik toko menerima nasihat Nasruddin dengan senang hati. Kedua, si pemilik toko kecewa dan mungkin sampai memaki-maki Nasruddin karena si pemilik toko tidak membutuhkan nasihat Nasruddin dan merasa telah dikecewakan Nasruddin. Yang membaca cerita ini pasti tertawa atau tersenyam simpul.


Penyelundup
Ada kabar angin bahwa Nasruddin juga berprofesi sebagai penyelundup. Maka, setiap kali Nasruddin melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Nasruddin memang sering harus melintasi batas wilayah.
Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. “Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tetapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu.
Sekarang, jawablah kepenasaranku, apa yang engkau selundupkan?”
“Jubah,” jawab Nasruddin serius.
(CJNH:41)

Wacana di atas juga dengan jelas menunjukkan terjadinya maksim kuantitas. Pada sebuah percakapan Nasruddin menjawab secukupnya saja. Nasruddin ditanya; “….apa yang engkau selundupkan?” Lalu Nasruddin menjawab; “Jubah.” Jawaban itu singkat dan cukup untuk menjawab sebuah pertanyaan yang tersebut di atas. Kepatuhan Nasruddin pada maksim kuantitas itulah yang sekaligus menjadi letak kelucuan dari cerita “Penyelundup” di atas. Tidak terpikirkan oleh si penjaga gerbang kalau yang diselundupkan Nasruddin itu adalah jubah. Penjaga gerbang tidak pernah curiga atau setidaknya timbul sebuah pertanyaan mengapa Nasruddin selalu memakai jubah berlapis-lapis padahal si penjaga sudah mengetahui bahwa Nasruddin adalah seorang penyelundup. Dalam pikiran penjaga Nasruddin itu menyelundupkan barang-barang berharga, obat-obatan terlarang atau lainnya yang pasti bukan jubah. Karena presuposisi yang salah, si penjaga tidak menemukan bukti untuk menangkap Nasruddin. Presuposisi yang salah dari penjaga ditambah kejujuran Nasruddin itulah yang menjadikan lucu cerita “Penyelundup” di atas.

b. Penciptaan Kelucuan dengan Maksim
Kualitas
Maksim kualitas mengharuskan setiap partisipan komunikasi mengatakan hal yang sebenarnya. Seperti halnya pada penciptaan kelucuan dengan maksim kuantitas, Nasruddin dapat menciptakan humornya baik dengan mematuhi maupun melanggar maksim kualitas.

Kakiku yang Sebelah Kiri Belum Berwudhu
Suatu hari, Nasruddin berwudhu. Tetapi karena airnya terlalu sedikit, kakinya yang sebelah kiri tidak terbasuh. Saat salat, dia mengangkat kaki kirinya seperti seekor angsa.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” seseorang bertanya.
“Kakiku yang sebelah kiri belum berwudhu,”jawab Nasruddin.
(CJNH:42)
Pada cerita di atas Nasruddin juga menjawab pertanyaan dengan penjelasan yang sebenarnya. Dia ditanya seseorang tentang apa yang dia lakukan karena memang yang dilakukan Nasruddin itu aneh. Tidak pernah ada yang melakukan salat dengan kaki sebelah diangkat seperti angsa sehingga orang tersebut heran lalu bertanya kepada Nasruddin; “Apa yang sedang kamu lakukan?” Nasruddin menjawab dengan lugunya tanpa merasa malu akan ditertawakan orang. Nasruddin menjawab apa adanya tanpa berkilah, “Kakiku yang sebelah kiri belum berwudhu.”
Penciptaan kelucuan cerita di atas disebabkan oleh implikatur juga. Cara berpikir Nasruddin yang aneh dan tidak logis mengimplikasikan anggota badan yang seharusnya diikutkan berwudhu tapi tidak diwudhui maka tidak boleh diikutkan dalam salat. Padahal dalam aturan berwudhu kalau air tidak mencukupi untuk berwudhu maka ada alternatif lain yaitu tayamum. Jadi, seharusnya Nasruddin itu bertayamum bukannya mengangkat kakinya yang sebelah lantaran tidak diwudhui karena kekurangan air. Bukannya Nasruddin tidak tahu tata tertib berwudhu karena dia adalah seorang ahli fiqih tetapi dia sengaja membuat kekonyolan untuk membuat geli pembaca. Nasruddin menciptakan kelucuan dengan implikatur tetapi tetap mematuhi maksim kualitas.
Dari ketiga cerita “Kakiku yang Sebelah Kiri Belum Berwudhu” terbukti Nasruddin menciptakan kelucuan dengan tetap mematuhi maksim kualitas. Dalam ketiga cerita tersebut Nasruddin memberikan respons atau jawaban yang sebenarnya tanpa berkilah. Ketiga jawaban Nasruddin pada cerita-cerita di atas menjadi letak kelucuan setiap cerita. Nasruddin menciptakan kelucuan sekaligus mematuhi maksim kualitas.
Besok Suaranya Terdengar
Suatu malam, Nasruddin naik keledai pulang ke rumahnya bersama Hammad muridnya. Di tengah jalan, mereka melihat beberapa orang pencuri sedang merusak kunci pintu sebuah rumah. Karena takut celaka, Nasruddin tidak berani menghalang-halangi mereka. Dia diam saja, bahkan menghindar, tetapi muridnya yang tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi bertanya.
“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Hammad.
“Ssst. Mereka sedang bermain musik,” jawab Nasruddin.
“Mengapa tidak terdengar suaranya?” tanya Hammad.
“Baru besok keributan suaranya akan terdengar,” jawab Nasruddin. (CJNH:240)
Pada humor di atas Nasruddin dengan sengaja melanggar maksim kualitas, artinya Nasruddin tidak memberikan jawaban dengan keadaan yang sebenarnya. Nasruddin memilih berbohong untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan misalnya, Hammad langsung berteriak “Maling…!” atau mungkin yang lainnya yang bisa mencelakakan Nasruddin ataupun muridnya. Karena Nasruddin sudah berpresuposisi seperti itu sehingga dia memilih berbohong saja, “Ssst. Mereka sedang bermain musik,” Dari sini Nasruddin sudah menciptakan kelucuan cerita akibat sebuah presuposisi dan pelanggaran maksim kualitas. Keingintahuan Hammad tidak sampai itu saja karena dia masih tidak mengerti dengan apa yang dia lihat. Hammad kembali bertanya kepada Nasruddin, “Mengapa tidak terdengar suaranya?” Nasruddin pun kembali melanggar maksim kualitas akibat dari sebuah presuposisi yang tidak dapat dipastikan kebenarannya, “Baru besok keributan suaranya akan terdengar.” Presuposisi dan pelanggaran maksim kualitas Nasruddin menciptakan kelucuan dan membuat tertawa para pembaca.

Satu Sen Hilang
Ketika sedang duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai, Nasruddin melihat sepuluh orang buta ingin menyeberangi sungai. Dia mewarkan bantuan kepada mereka dengan bayaran satu sen per orang.
Mereka setuju, dan sang Mullah pun memulai pekerjaannya.
Sembilan orang telah selamat sampai ke tepi sungai. Tetapi orang kesepuluh rupanya memiliki sifat nyleneh. Ketika diberi tahu agar melangkah ke kiri, dia melangkah ke kanan sehingga dia terpeleset ke sungai dan hanyut dibawa air.
Merasa ada sesuatu yang salah, kesembilan orang yang selamat mulai berteriak, “Apa yang terjadi Mullah?”
“Aku kehilangan uang satu sen.”
(CJNH:25)

Ada dua kemungkinan jawaban Nasruddin pada cerita di atas yaitu, antara Nasruddin patuh dan melanggar maksim kualitas. Kalau dilihat dari kepentingan sekelompok orang buta yang butuh keselamatan semua anggotanya, jelas Nasruddin melanggar maksim kualitas karena dia tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi. Nasruddin tidak mengatakan kalau satu anggota dari sepuluh orang buta yang harus dia seberangkan hanyut di sungai. Kalau dilihat dari kepentingan Nasruddin yang membutuhkan uang, dia tidak melanggar maksim kualitas karena Nasruddin menjawab yang sebenarnya terjadi. Nasruddin memang kehilangan uang satu sen gara-gara orang buta yang dia seberangkan terpeleset dan hanyut di sungai. Implikasi Nasruddin adalah implikasi yang logis dan sebuah hubungan yang mutlak bahwa satu orang buta sama dengan uang satu sen. Implikasi yang logis dan tuturan yang memiliki hubungan mutlak itu disebut entailment. Sebuah entailment tersebut Nasruddin menciptakan kelucuan pada cerita “Satu Sen Hilang.” Bagi Nasruddin uang satu sen lebih berharga daripada nyawa seseorang. Oleh karena itu, ketika para orang buta yang selamat bertanya kepada Nasruddin; “Apa yang terjadi Mullah?” spontan Nasruddin menjawab; “Aku kehilangan uang satu sen.” Dalam cerita di atas Nasruddin juga menggunakan gaya bahasa paradoks, apa yang dia katakan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, bahwa sesungguhnya salah satu dari rombongan orang buta yang dia seberangkan telah hanyut di sungai.

c. Penciptaan Kelucuan dengan Maksim Relevansi
Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta percakapan untuk memberikan respons atau jawaban yang relevan dengan topik percakapan. Namun terkadang jawaban yang diberikan tidak secara eksplisit, sebab sudah ada pengetahuan yang sama antara penutur dan lawan tutur tentang topik pembicaraan.


Apakah Kau Pernah Disusui Kambing?
Di suatu pesta, Nasruddin dihidangi daging kambing panggang. Hidangan itu disantap Nasruddin dengan lahap. Seorang teman menggodanya dan berkata, “Nasruddin! Betapa lahap kau menyantap kambing itu. Apakah induknya pernah menandukmu dan kau menaruh dendam padanya, sehingga kau santap dengan bersemangat?”
Sambil melanjutkan makannya, Nasrudin menjawab, “Kulihat engkau sangat kasihan kepadanya. Apakah induknya pernah mengasuh dan menyusuimu?”
(CJNH:156)
Wacana di atas tampak peserta tutur memberikan kontribusi yang relevan dengan pokok pembicaraan. Nasruddin memberikan jawaban atas pertanyaan temannya sesuai dengan topik pembicaraan. Namun, ada sesuatu yang tersembunyi atau implisit di balik percakapan tersebut. Karena sudah ada latar belakang pengetahuan yang sama antara penutur dan lawan tutur, komunikasi tetap bisa berjalan. Teman Nasruddin itu menggoda Nasruddin yang sedang lahap menyantap hidangan kambing panggang karena temannya tahu kalau Nasruddin tidak pernah makan makanan enak kecuali dalam pesta besar. Nasruddin pun tahu kalau temannya itu berniat meledek dan membuatnya malu sehingga dia membalasnya dengan ledekan juga. Di sini Nasruddin membuat sebuah implikasi yang tidak logis atau implikatur. Nasruddin mengimplikasikan kalau temannya itu pernah disusui dan diasuh oleh induk kambing yang dimakan Nasruddin karena temannya itu terlihat sangat kasihan ketika melihat kambing itu dimakan Nasruddin dengan lahapnya. Implikatur tersebut hanyalah sebuah ledekan atau main-main, tidak ada unsur kesengajaan atau keseriusan. Nasruddin dan temannya pun sudah sama-sama mengetahui maksud dan tujuan dari ledekan atau implikatur tersebut. Justru dari implikatur yang mereka ketahui bersama menciptakan tawa para pembaca cerita.

Ayam Betina dan Ayam Jantan
Nasruddin diajak teman-temannya ke sebuah pemandian Turki. Tanpa sepengetahuan Nasruddin, teman-temannya masing-masing membawa sebutir telur.
Ketika mereka sudah memasuki kamar mandi uap, temannya berkata, “Ayo, kita sama-sama membayangkan bahwa kita semua ini ayam betina yang sedang bertelur. Siapa yang gagal bertelur, dia harus membayar ongkos mandi untuk semua orang yang ada di ruang ini.”
Nasruddin setuju.
Tak lama kemudian, masing-masing temannya mulai menunjukkan telurnya. Ketika mereka meminta Nasruddin menunjukkan hasil kerjanya. Nasruddin berkokok menirukan suara ayam.
“Di antara begitu banyak ayam betina,” kata Nasruddin, “tentu harus ada ayam jantannya.”
(CJNH:144)
Jawaban Nasruddin tersebut di atas adalah sebuah jawaban yang relevan. Teman-teman Nasruddin mengajak bermain ayam betina bertelur tetapi itu untuk mengelabui Nasruddin saja karena mereka ingin mandi uap dengan gratis. Semua sudah mempersiapkan telur dan mengeluarkannya kecuali Nasruddin. Nasruddin yang cerdas segera mencari akal dan hasilnya dia berkokok seperti ayam jantan. Alasannya, di antara begitu banyak ayam betina yang bertelur tentu ada ayam jantan. Jadi, dalam cerita ini Nasruddin tidak melakukan pelanggaran terhadap maksim relevansi karena dia memberikan kontribusi yang relevan sesuai dengan topik pembicaraan.
Jawaban Nasruddin di atas juga sebuah implikasi yang logis dan mempunyai hubungan yang bersifat mutlak. Adanya ayam betina yang bertelur pasti ada peran ayam jantan karena tidak mungkin ayam betina bertelur tanpa dibuahi ayam jantan terlebih dahulu. Implikasi yang logis dan bersifat mutlak itulah yang disebut entailment. Kecerdasan Nasruddin dengan tetap mematuhi maksim relevansi sekaligus menciptakan entailment membuat teman-temannya menjadi kecewa karena tidak berhasil mengelabui Nasruddin sesuai rencana mereka. Dengan cerita itu pembaca menjadi terhibur dan tersenyum kagum dengan kecerdasannya.

Aku Bukan Pedagang Hari dan Bulan
“Hari apa dan bulan apa sekarang?” Tanya seorang laki-laki kepada Nasruddin.
“Kalau aku pedagang hari dan bulan, tentu akan aku jawab pertanyaanmu itu,”jawab Nasruddin.
(CJNH:77)
Percakapan di atas, Nasruddin tidak lagi mematuhi maksim relevansi artinya, Nasruddin sebagai peserta komunikasi tak lagi memberikan respons atau jawaban yang relevan. Ketika ditanya; “Hari apa dan bulan apa sekarang?” Nasruddin malah menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan, “Kalau aku pedagang hari dan bulan, tentu akan aku jawab pertanyaanmu itu.” Seseorang bertanya kepada Nasruddin tentang hari dan bulan apa sekarang, seharusnya Nasruddin cukup menjawab, misalnya senin bulan Mei atau mungkin yang lainnya, bukannya menjawab seperti yang tersebut tadi. Jawaban Nasruddin itu sungguh tidak relevan dengan pertanyaan yang diajukan oleh seseorang. Ditambah lagi mana ada orang yang berdagang hari dan bulan karena memang hari dan bulan bukanlah barang dagangan. Itu adalah sebuah ungkapan yang tidak logis. Dari nada jawaban Nasruddin, dia sedang kesal. Bisa jadi Nasaruddin sedang kesal dengan orang yang bertanya itu sehingga dia menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang tidak sesuai. Tentang pertanyaan hari dan bulan Nasruddin mengimplikasikan seseorang yang bertanya itu adalah seorang pembeli, karena Nasruddin bukan seorang penjual atau pedagang maka dia menjawab; “Kalau aku pedagang hari dan bulan, tentu akan aku jawab pertanyaanmu itu.” Dari sebuah implikasi yang tidak logis tersebut Nasruddin membuat implikatur yang menggelitik. Kelucuan cerita di atas tercipta dari implikatur dan pelanggaran Nasruddin terhadap maksim relevansi.

d. Penciptaan Kelucuan dengan Maksim Pelaksanaan
Maksim pelaksanaan adalah maksim yang mengharuskan bahwa setiap peserta percakapan dapat memberikan informasi secara langsung, tidak taksa, dan runtut. Apabila hal ini dilanggar tentunya orang tersebut mempunyai tujuan tertentu.
Malu kepada Allah
Ketika Nasruddin sedang duduk-duduk di depan rumahnya, seorang tetangganya yang terkenal kaya raya mendatanginya dan memberinya 500 dirham sambil berkata,”Aku mohon keikhlasan Anda mendoakan kebaikan dan kejayaan untukku setiap Anda selesai shalat lima waktu.”
Nasruddin menerima uang itu, menghitungnya, lalu menyisihkan 100 dirham dan mengembalikannya kepada si pemberi. Si tetangga kaya itu bingung.
“Lo, kok dikembaliin?”
“Aku malu kepada Allah karena shalat subuhku sering terlambat, jadi aku terima uang ini hanya untuk empat waktu shalat saja,” jawab Nasruddin.
(HJNH:138)
Nasruddin mematuhi maksim pelaksanaan dalam wacana di atas. Dia memberikan respon atau jawaban dengan jelas. Dia tidak mau menerima uang yang seratus dirham karena dia sadar kalau salah satu salatnya sering terlambat. Permintaan si pemberi uang 500 dirham kepada Nasruddin untuk mendoakannya setiap selesai salat lima waktu itu membuat Nasruddin beranalogi bahwa setiap doanya habis salat lima waktu itu seharga seratus dirham. Karena salat subuh Nasruddin sering terlambat, dia sangat malu kepada Allah untuk berdoa. Oleh karena itu, dia mengembalikan yang seratus dirham sebab dia tidak menyanggupi doa yang setelah salat subuh. Sangat jelas Nasruddin memberikan alasan atau jawaban kenapa dia menegembalikan yang seratus dirham kepada tetangga yang memberinya uang itu. Kepatuhan Nasruddin terhadap maksim pelaksanaan dalam cerita di atas mungkin tidak banyak mengundang tawa tetapi hanya tersenyum kemudian memikirkan sejenak arti dari kisah Nasruddin tersebut. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nasruddin tersebut kalau mau mempelajari lebih dalam disamping bisa tersenyum karena terhibur.

Tujuan Humor Nasruddin Hoja
Nasruddin berhumor tidak hanya untuk mengajak pembaca tersenyum dan tertawa tapi dia ingin mengajak pembaca berpikir untuk berbuat yang lebih baik. Oleh karena itu, dia memunculkan dirinya dalam cerita humornya sebagai manusia biasa bukan manusia yang diagungkan agar tidak ada pengecualian antara dirinya dan pembaca. Bahwa sifat-sifat baik dan nasihat Nasruddin itu mudah dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari karena dia sendiri sebagai manusia biasa sudah bisa melaksanakannya. Nasruddin berhumor juga bertujuan untuk memberikan pengalaman bahwa suatu masalah haruslah diselesaikan tapi jangan dengan jalan bertengkar, adu mulut atau semacamnya. Nasruddin bisa menyelesaikan masalah dengan baik, salah satunya yaitu dengan berhumor. Dengan humor suasana tegang bisa menjadi cair dan menyenangkan, suasana yang asing dan canggung bisa jadi akrab dan enak. Tapi, catatan penting harus hati-hati mengeluarkan humor, kalau salah tempat bisa jadi bumerang.

SIMPULAN
Humor Nasruddin Hoja merupakan wacana hiburan yang disajikan dalam bentuk tulis. Humor Nasruddin Hoja merupakan media untuk menyampaikan suatu tujuan. Tujuan utama dalam humor Nasruddin Hoja adalah memancing senyum dan tawa pembacanya. Selain untuk memancing senyum dan tawa, humor Nasruddin Hoja juga dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan suatu maksud yang mungkin tidak dapat disampaikan secara langsung.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut;
1. Humor Nasruddin Hoja sebagai media humor verbal, secara dominan sebagai sumber kejenakaan. Multikarakter seorang tokoh Nasruddin selalu membuat terkejut kemudin tertawa.
2. Tuturan atau ungkapan humor mempunyai tujuan untuk merangsang atau membangkitkan perasaan geli atau humor melalui kejutan-kejutan atau suatu tindakan yang tak terduga atau malah tokoh itu sendiri tidak menyadari tindakannya.
3. Semua humor Nasruddin Hoja mengandung semua jenis tindak tutur, yaitu tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Terdapat maksim-maksim percakapan, yaitu maksim kuantitas, kualitas, relevansi dan pelaksanaan atau cara. Di samping itu ada presuposisi atau praanggapan, implikatur, dan entailment.
4. Kepatuhan dan pelanggaran yang dilakukan Nasruddin terhadap maksim-maksim percakapan adalah disengaja sebagai bentuk penyaluran kreativitas dan imajinatif untuk memperoleh keunikan yang mengundang senyum, tawa, dan ketidakterdugaan bagi pembacanya.
5. Corak humor Nasruddin adalah dakwah untuk mengajak manusia menjadi lebih baik sehingga humornya bersifat manusiawi tidak surealis. Nasruddin mengajak pembaca terjun ke dunianya sehingga pembaca memiliki pengalaman unik yang tidak pernah terbayangkan. Nasruddin memberikan gambaran betapa ketegangan, pertengkaran, perselisihan itu sangat tidak nyaman dirasakan, sehingga dia memilih menyelesaikan masalah salah satunya dengan berhumor.


Pustaka Acuan
Dwi Sasongko, Bambang. 2010. [online]. Tersedia: http://bambangdssmagasolo.blogspot.com/2010/05/pendekatan-pragmatik.html. [11 April 2011]
Hidayati. 2009. Analisis Pragmatik Humor Nasruddin Hoja, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang
Winardi, Irwan. 2006. 360 Cerita Jenaka Nasruddin Hoja. Bandung: Pustaka Hidayah
Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

0 komentar:

Poskan Komentar