KAJIAN SEMIOTIKA PUISI DERAI-DERAI CEMARA KARYA CHAIRIL ANWAR1

|

Jumat, 16 Desember 2011

KAJIAN SEMIOTIKA PUISI DERAI-DERAI CEMARA
KARYA CHAIRIL ANWAR1

oleh Fitri Rahmawati2

Abstrak. Tulisan ini mengkaji puisi Derai-Derai Cemara karya Chairil Anwar secara semiotik, dengan menganalisis aspek sintaksis, aspek semantik dan aspek pragmatik. Tujuan kajian puisi ini adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap puis Derai-Derai Cemara karya Chairil Anwar secara semiotik. Bahasa yang merupakan medium karya sastra dalam puisi ini merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang dapat dikaji. Seperti makna kata-kata dalam sajak Derai-derai Cemara ini yang ingin penyair sampaikan.
Kata kunci: semiotik, puisi, kajian, tanda


Pendahuluan
Puisi sebagai bagian dalam karya sastra pada dasarnya merupakan sarana ekspresi seseorang dari alam batinnya. Perwujudan ekspresi pengarang lewat puisi selanjutnya difasilitasi melalui bahasa yang bertujuan memberi kesan dan suasana emotif tertentu untuk mempengaruhi perasaan/pikiran penikmat puisi. Pradopo (2002:7) menyimpulkan bahwa puisi memiliki unsur-unsur berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan dan perasaan pengarang semua hal tersebut terungkap dalam media bahasa. Bahasa pada dasarnya juga mempunyai fungsi simbolik. Bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi (Bloch dan Trager melalui Tarigan, 1984 : 19). Mulyana (2003 : 77) mendeskripsikan simbol adalah suatu rangsangan yang mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia. Respons manusia terhadap simbol adalah dalam pengertian makna dan nilainya. Suatu simbol disebut signifikan/memiliki makna apabila simbol itu membangkitkan pada individu yang menyampaikan respons yang sama seperti yang juga akan muncul pada individu yang dituju.
Puisi adalah karangan atau tulisan yang indah yang mempunyai makna tertentu dan mempunyai nilai estetis. (Jalil 1990:13). Karangan atau tulisan yang indah itu dapat berasal dari pengalaman penyair ataupun dari penggambaran sesuatu. Analisis semiotik adalah sebuah kajian dalam karya sastra yang mengkaji tentang unsur-unsur tanda dalam karya sastra tersebut. Analisis semiotik memandang bahwa sebuah karya sastra adalah kumpulan tanda-tanda yang dapat dinterpretasikan sesuai dengan konteksnya. Berikut puisi Derai-Derai Cemara yang akan dikaji secara semiotik dalam tulisan ini.


Derai-derai cemara
Chairil Anwar

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah



Pembahasan

Sajak Derai-Derai Cemara ini terdiri dari 3 bait, setiap baitnya terdiri dari 4 larik. Ketiga bait ini memilki tipografi dengan 4 larik setiap baitnya. Pengutaraan sajak ini pun tampak tertib dan tenang: masing-masing bait sepenuhnya menggunakan rima a-b-a-b. Dari gambaran di atas, tampak jelas bahwa dari bait satu sampai bait tiga hadir dengan tipografi lurus dan struktur yang teratur dengan pola rima a-b-a-b, tetapi tidak sama dengan pantun. Tidak ada sampiran, semua larik digunakan oleh penyair sebagai sarana pengantar kepuitisan.
“Cemara menderai sampai jauh”, “dipukul angin yang terpendam”, seolah-olah mencitrakan sebuah kehidupan yang mulai lelah. Dengan simbol-simbol seperti dahan, yaitu metafora dari bagian tubuh manusia yang mulai lemah dengan kiasan merapuh. Simbolik malam akan mengimajinasikan pada kesunyian, tempat sedang orang istirahat, dan akhir dari sebuah kehidupan. misalnya malam yang biasanya diidentikkan dengan kesunyian, disangkal dengan suara-suara seperti menderai dan dipukul. Pada larik 6 “sudah beberapa waktu bukan kanak lagi”. Pada otak kita akan terbayang seorang anak-anak dengan sifatnya yang polos, lugu, dan lucu. Tapi, keseluruhan, bukanlah anak-anak yang ada dibenak kita. “Bukan kanak” ditunjang dengan kata-kata pendukungnya, menunjukkan sikap kedewasaan. Ada hal-hal yang tak dapat dipecahkan atau diketahui, hingga ditunjukkannya dalam larik 8 “yang bukan dasar perhitungan kini”. “Hidup hanya menunda kekalahan….” semacam kesimpulan yang diutarakan dengan sikap mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang memisahkan diri dari masa lampau.

Isotopi yang terdapat dalam puisi tersebut adalah sebagai berikut.
a. Dahan : lemah, rapuh
b. Malam : kesunyian
c. Terasing : terpencil
d. Jauh : jarak yang jauh

Bait pertama kalau dikaitkan dengan larik-larik sebelumnya, seolah-olah mencitrakan sebuah kehidupan si Aku yang mulai lelah. Dengan simbol-simbol seperti dahan, yaitu bagian tubuh manusia yang mulai lemah dengan kiasan merapuh. Simbolik malam akan mengimajinasikan pada kesunyian, tempat sedang orang istirahat, dan akhir dari sebuah kehidupan; telah dimanfaatkan si penyair untuk sebuah proses kematangan.
Bait kedua dan ketiga Kata 'terasing' mengandung rasa terpencil, menunjukkan rasa keterasingan; sedangkan kata 'jauh' menunjukkan jarak yaitu angan-angan masa kanak-kanak yang cemerlang penuh harapan di masa yang akan datang, tetapi kenyataannya hidup ini penuh penderitaan. Sehingga kata jauh lebih tepat daripada kata terasing. Demikianlah, diksi/pilihan kata sungguh dicermati pengarang untuk menghasilkan kata berjiwa. Maka analisis terhadap pilihan kata pengarang akan sangat membantu pemahaman sebuah puisi.
Kemudian secara semantik, makna dari tiap bait puisi ini adalah.
Bait pertama :

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Artinya adalah kesadaran akan perjalanan hidup yang selalu akan berakhir dan tak dapat dipungkiri bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Bait kedua :

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Artinya dengan skemata yang ada pada otak kita akan terbayang seorang anak anak dengan sifatnya yang polos, lugu, dan lucu. Tapi, secara keseluruhan bait 2, bukanlah anak-anak yang ada dibenak kita. “Bukan kanak” ditunjang dengan kata kata pendukungnya, menunjukkan sikap kedewasaan “Aku” lirik.

Bait ketiga :

Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Pada bait ini terasa kental sekali “aroma kematian” dan kepasrahan dari si Aku lirik. Isi dalam puisi ini, sangat patut kita renungkan sebagai nasihat dan pepatah hidup kita. Seperti, kata-kata hidup hanya menunda kekalahan telah menjadi semacam pepatah dan terasa tidak asing di telinga kita. Kiasan kekalahan sangat menarik untuk diperhitakan; padahal yang kita kenal selama ini adalah hidup hanya menunda kemenangan. Kekalahan adalah simbol dari kepasrahan dan sangat kental dengan aroma kematian.


SIMPULAN
Berdasarkan hasil pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa kajian semiotik pada puisi ini adalah mengandung makna kesadaran akan perjalanan hidup yang selalu akan berakhir dan tak dapat dipungkiri bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.


DAFTAR PUSTAKA

Pradopo, Djoko Rachmat. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

0 komentar:

Poskan Komentar